Mengolah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar

Mengolah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar

Mengolah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar – Dimas Bagus Wijanarko, 41 tahun, tengah menyelesaikan tur Jawa- Bali dengan jarak sekitar 1.200 kilometer me ngendarai Vespa kesa yang annya yang diisi bahan bakar alternatif. Sembari touring, Dimas menunjukkan kepada masya rakat bahwa limbah plastik dapat disulap menjadi bahan bakar untuk Vespa yang ia kendarai.

“Saya membutuhkan sekitar 60 liter bahan bakar yang dihasilkan dari 100 kilogram limbah plastik,” kata dia, Rabu lalu. Ia menjelaskan, setiap satu kilogram limbah plastik dapat menghasilkan satu liter minyak mentah, dan sekitar 400 mililiter jenis Premium atau bensin.

“Tidak ada keunggulan tertentu, karena pada da sarnya bahan bakar dari plastik ini sama dengan BBM fosil. Plastik itu sendiri diproses dari BBM fosil. Tapi ini menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan limbah plastik,” kata dia. Dia berujar, kandungan oktan yang dihasilkan dari alat yang ia rancang masih rendah.

Untuk itu, ia menambahkan zat aditif eter sebanyak 10 persen di setiap satu liter minyak. Lain halnya dengan solar yang dihasilkan dari limbah plastik ini. Dia mengklaim solar yang dihasilkan lebih baik daripada solar yang diproduksi Pertamina. “Kami sudah uji di laboratorium Sucofindo,” kata pendiri komunitas Getplastic.id ini.

Menurut Dimas, pada dasarnya hampir semua tipe sampah plastik da pat diolah menjadi mi nyak. Meski demikian, plastik jenis HDPE, LDPE, PP, PVC, dan PS adalah go longan plastik yang ba nyak memiliki kandungan minyak. “Dari semua itu, yang paling ba nyak menghasilkan mi nyak jenis Premium adalah jenis PP,” kata dia. Untuk menyebarkan penge tahuannya, Dimas menga dakan workshop di setiap kota yang ia singgahi.

Dalam workshop tersebut, Dimas akan menjelaskan proses pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar. “Plastik dimasukkan ke dalam tabung reaktor, lalu ditutup rapat sehingga tidak ada oksigen atau udara yang masuk,” kata dia. Setelah itu, dipanaskan hingga mencapai suhu 400 derajat Celsius. Plastik perlahan-lahan akan berubah menjadi gas, lalu didinginkan sehingga berubah menjadi cair. Cairan inilah yang kelak akan menjadi minyak.

Modal utama yang di perlukan untuk melakukan proses pirolisis ini adalah tabung reaktor, pipa besi untuk instalasi gas, pompa air akuarium, kompor sebagai pemanas, dan beberapa material kecil pendukung lainnya. Dimas menemui banyak kendala saat pertama kali mencoba karena sangat awam tentang plastik.

Dia banyak mendapat bantuan dari temannya, Jalaludin Rumi Prasat, yang banyak berperan sebagai konsultan hingga alat tersebut selesai dan dapat digunakan dengan baik. “Selama proses tersebut, saya juga banyak membaca artikel yang mengulas tentang pirolisis ini,” kata dia.

Limbah plastik di Indonesia memang sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Saat ini Indonesia memproduksi sampah plastik sebanyak 175 ribu ton per hari. Angka ini menjadikan Indonesia penyumbang sampah terbesar kedua di dunia setelah Cina. Dua tahun lalu Indonesia juga dinobatkan sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Menggunungnya sampah plastik membuat sejumlah orang berikhtiar mengolahnya kembali.

Tak cuma disulap menjadi bahan bakar, komunitas nol sampah yang berada di Surabaya mulai serius mengelola sampah plastik menjadi material padat sejak 2016. Mereka mendapat ide dari seorang pe ngelola sampah plastik di Yogyakarta yang berupaya menjadikan plastik-plastik itu sebagai ecobrick.

Community Organizer Komunitas Nol Sampah, Hanny Ismail, mengatakan membuat ecobrick memiliki daya gebrak lebih luas daripada sekadar me nolak kantong plastik. Dalam ecobrick, misalnya, ada upaya “menghadang” sampah plastik lolos hingga ke tempat pembuangan akhir, ke laut, atau dibakar. Bahannya pun cukup mudah didapat, yakni botol air mineral, plastik, dan stik kayu.